LAPORAN MINI RISET
KUNJUNGAN
RONGGO WARSITO
“MASJID
AGUNG DEMAK”
22 NOPEMBER 2015
Disusun Guna
Memenuhi Tugas UTS
Mata kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu:
M. Rikza Chamami M. Pd
Kelas : PM 5C
Oleh :
MUSTHALIHAH
(133511087)
JURUSAN PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS
DAN TEKNLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
Minggu, 22 Nopember 2015 saya Musthalihah beserta seluruh mahasiswa
yang mengikuti perkuliahan Islam dan Budaya Jawa berkunjung ke Museum Ronggo
warsito. Kunjungan ini diwajibkan karena hasil kunjungan ini akan dijadikan
ulangan tengah semester (UTS). Di dalam museum ini banyak sekali benda, koleksi
barang, miniature, dan pengetahuan tentang segala sejarah bangsa Indonesia masa
Hindu Budha sampai dengan islam. Seperti koleksi kaset band, alat music
piringan hitam, kerangka gajah, miniature candid an keterangan yang
menyertainya, miniature masjid islam di Indonesia dan lain sebagainya.
Ada salah satu miniature yang menarik perhatian saya yaitu
miniature masjid Agung Demak. Seperti yang telah sama-sama kita ketauhui bahwa
masjid adalah tempat umat islam melaksanakan sholat (berkomunikasi dengan
Allah). Pada jaman dahulu, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat
peribadatan, namun juga sebagai tempat berkumpul. Tempat dimana para wali
membahas hal-hal yang berkaitan dengan agama dan kemasyarakatan. Masjid
mencerminkan kehidupan muslim di komunitas itu.
Masjid di Jawa pada umumnya dilengkapi dengan bedug dan kenthongan.
Oleh umat islam bedug dan kenthongan digunakan sebagai tanda masuknya waktu
sholat. Namun, dilihat dari sisi masyarakat jawa bedug dan kenthongan merupakan
sarana komunikasi yang sangat efektif. Tidak berbeda pula di masjid Agung
Demak. Di masjid ini juga terdapat bedug dan kenthongan.
Masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1478 M oleh Walisongo. Bangunan
masjid Agung Demak sangat menarik. Banyak sekali symbol yang digambarkan pada
bangunan masjid ini. Simbol ini menimbulkan banyak penafsiran dilihat dari
sejarah, budaya, dan islam. Mulai dari pintu, dinding, ukiran dan lain
sebagainya.
Saat kita lihat pintunya masuk masjid ini, kita akan melihat gambar
naga terpampang. Naga ini adalah petir yang konon pernah ditangkap Ki Ageng
Selo. Pintu ini dinamai dengan “pintu bledeg” atau pintu petir.
Masjid Agung Demak memiliki mustoko yang sangat unik. Mustoko ini
dibuat berdasarkan empat elemen. Pada atap masjid Agung Demak berbentuk atap tumpang
tiga. Hal ini menimbulkan banyak penafsiran dan makna filosofi. Atap ini
memperlihatkan kemiripan dengan bangunan majapahit. Bangunan utama masjid ini
berbentuk persegi dengan empat tiang kayu yang besar untuk membopong atap yang
berlapis-lapis. Ada yang menafsirkan atap yang berlapis-lapis merupakan
gambaran dari Meru (bangunan tersuci di pura hindu). Bangunan masjid ini dimanifestasikan
seperti bangunan joglo (rumah adat jawa). Namun ada yang beranggapan tatanan
bangunan masjid ini lebih mirip bangunan Cina.
Interelasi arsitektur islam jawa dapat dilihat sejak masuknya islam
di Jawa. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa pada mulanya nenek moyang kita
belum mengenal agama. Mereka menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.
Sampai akhirnya lahir agama hindu dan budha. Setelah runtuhnya kerajaan hindu
budha, islam datang dengan jalan damai. Dibuktikan dengan ajaran yang
disebarkan menyatu dengan kebudayaan sebelumnya. Tak heran jika seni arsitektur
islam di Indonesia juga terpengaruh oleh seni arsitektur agama sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar