Rabu, 30 Desember 2015

Mini Riset Ronggo Warsito "Masjid Demak"



LAPORAN MINI RISET

KUNJUNGAN RONGGO WARSITO
“MASJID AGUNG DEMAK”
22 NOPEMBER 2015

Disusun Guna Memenuhi Tugas UTS
Mata kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu:  M. Rikza Chamami M. Pd
Kelas : PM 5C



Oleh :
MUSTHALIHAH
(133511087)


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015

Minggu, 22 Nopember 2015 saya Musthalihah beserta seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Islam dan Budaya Jawa berkunjung ke Museum Ronggo warsito. Kunjungan ini diwajibkan karena hasil kunjungan ini akan dijadikan ulangan tengah semester (UTS). Di dalam museum ini banyak sekali benda, koleksi barang, miniature, dan pengetahuan tentang segala sejarah bangsa Indonesia masa Hindu Budha sampai dengan islam. Seperti koleksi kaset band, alat music piringan hitam, kerangka gajah, miniature candid an keterangan yang menyertainya, miniature masjid islam di Indonesia dan lain sebagainya.
Ada salah satu miniature yang menarik perhatian saya yaitu miniature masjid Agung Demak. Seperti yang telah sama-sama kita ketauhui bahwa masjid adalah tempat umat islam melaksanakan sholat (berkomunikasi dengan Allah). Pada jaman dahulu, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat peribadatan, namun juga sebagai tempat berkumpul. Tempat dimana para wali membahas hal-hal yang berkaitan dengan agama dan kemasyarakatan. Masjid mencerminkan kehidupan muslim di komunitas itu.
Masjid di Jawa pada umumnya dilengkapi dengan bedug dan kenthongan. Oleh umat islam bedug dan kenthongan digunakan sebagai tanda masuknya waktu sholat. Namun, dilihat dari sisi masyarakat jawa bedug dan kenthongan merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif. Tidak berbeda pula di masjid Agung Demak. Di masjid ini juga terdapat bedug dan kenthongan.
Masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1478 M oleh Walisongo. Bangunan masjid Agung Demak sangat menarik. Banyak sekali symbol yang digambarkan pada bangunan masjid ini. Simbol ini menimbulkan banyak penafsiran dilihat dari sejarah, budaya, dan islam. Mulai dari pintu, dinding, ukiran dan lain sebagainya.
Saat kita lihat pintunya masuk masjid ini, kita akan melihat gambar naga terpampang. Naga ini adalah petir yang konon pernah ditangkap Ki Ageng Selo. Pintu ini dinamai dengan “pintu bledeg” atau pintu petir.
Masjid Agung Demak memiliki mustoko yang sangat unik. Mustoko ini dibuat berdasarkan empat elemen. Pada atap masjid Agung Demak berbentuk atap tumpang tiga. Hal ini menimbulkan banyak penafsiran dan makna filosofi. Atap ini memperlihatkan kemiripan dengan bangunan majapahit. Bangunan utama masjid ini berbentuk persegi dengan empat tiang kayu yang besar untuk membopong atap yang berlapis-lapis. Ada yang menafsirkan atap yang berlapis-lapis merupakan gambaran dari Meru (bangunan tersuci di pura hindu). Bangunan masjid ini dimanifestasikan seperti bangunan joglo (rumah adat jawa). Namun ada yang beranggapan tatanan bangunan masjid ini lebih mirip bangunan Cina.
Interelasi arsitektur islam jawa dapat dilihat sejak masuknya islam di Jawa. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa pada mulanya nenek moyang kita belum mengenal agama. Mereka menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Sampai akhirnya lahir agama hindu dan budha. Setelah runtuhnya kerajaan hindu budha, islam datang dengan jalan damai. Dibuktikan dengan ajaran yang disebarkan menyatu dengan kebudayaan sebelumnya. Tak heran jika seni arsitektur islam di Indonesia juga terpengaruh oleh seni arsitektur agama sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar