LAPORAN MINI RISET
TRADISI
KIRAB DI MAKAM KI AGENG SELO
DI DESA
SELO, KEC. TAWANGHARJO, KAB. GROBOGAN
Disusun Guna
Memenuhi Tugas UAS
Mata kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu:
M. Rikza Chamami M. Pd
Kelas : PM 5C
Oleh :
MUSTHALIHAH
(133511087)
JURUSAN PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS
DAN TEKNLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kakek nenek adalah sosok figure yang
hidup sebelum kita dilahirkan. Mereka memiliki segudang pengetahuan sejarah tempo
dulu. Kebanyakan dari mereka peduli dan mampu menceritakan sejarah yang mereka
dapatkan secara turun temurun. Tak heran, jika mereka juga mampu menceritakan
asal-usul nama daerah mereka, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lain
sebagainya.
Namun, jika dilihat saat ini banyak
sekali dari anak muda yang lupa akan leluhur mereka. Bahkan anak muda saat ini
cenderung acuh akan hal tersebut. Budaya dari leluhur pun luput dari ingatan
anak muda saat ini. Berbeda sekali dengan masyarakat terdahulu.
Demi membangkitkan rasa sadar akan
tanggung jawab saya dan pemuda lainnya, mulai dari saya akan mencoba berubah. Sebagai
salah satu anak turun dari Ki Ageng Selo sudah sepatutnya bagi saya dan seluruh
keturunan lainnya mengerti dan memahami akan sejarah leluhur kami. Dengan
adanya laporan ini semoga anak turun Ki Ageng Selo mampu menceritakan asal-usul
daerah Selo, silsilah keturunan Ki Ageng Selo, sejarah Ki Ageng Selo, dan
peduli akan budaya, dan tradisi yang dilaksanakan di desa Selo.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
silsilah keturunan Ki Ageng Selo?
2.
Bagaimana
sejarah tokoh Ki Ageng Selo?
3.
Apa
makna bentuk punden Ki Ageng Selo?
4.
Bagaimana
tradisi “Kirab Pusaka” di Desa Selo?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Silsilah
Keturunan Ki Ageng Selo
Silsilah Ki Ageng Selo menurut juru kunci (Terlampir)
A.
Sejarah
Tokoh Ki Ageng Selo
Ki Ageng Selo adalah sebutan
seseorang yang dituakan di desa Selo. Selain itu, beliau juga dikenal dengan
nama Ki Ageng Selo
Kertabhaya Syeh Abdurrahman karena memang nama asli beliau adalah Syeh
Abdurrahman.
Ki
Ageng Selo, diwaktu mudanya dipanggil dengan nama “Bagus Songgom”. Beliau
adalah sosok pemuda yang sombong dan angkuh karena beliau merasa keturunan dari
orang yang berwibawa (Getas Pendawa). Namun, sifat buruknya mampu diobati
setelah melewati beberapa pengalaman hidup yang pahit. Mulai dari sinilah,
beliau sadar bahwa setiap makhluk yang Allah SWT ciptakan memiliki
keterbatasan. Sehingga, jalan satu-satunya yang harus beliau tempuh hanyalah
bertaubat dan meminta ampunan pada Allah SWT dengan bertapa. Maka bergurulah
beliau kepada sunan Kalijaga. Ki Ageng Selo adalah salah satu murid sakti yang
dimiliki sunan Kalijaga.
Kegiatan sehari-hari Ki Ageng Selo
adalah pergi ke sawah. Beliau adalah seorang petani yang memiliki beberepa
sawah. Saat panen tiba, hasil panen panen garapannya tidak digunakan sendiri,
melainkan dibagi-bagikan kepada warga setempat. Beliau sangat disiplin dalam
membagi waktu antara pergi ke sawah dan beribadah kepada Allah SWT. Tak heran
jika sholat lima waktu selalu ditegakkan meski berada di sawah. Sampai-sampai,
nama setiap petak sawah dihubungkan dengan kegiatan ibadah yang beliau
kerjakan. Sawah “Subanlah” adalah salah satu nama yang beliau berikan karena
beliau ketika menggarapnya selalu berdzikir membaca tasbih “Subhanallah”.
Namun, terdapat juga cerita dari masyarakat setempat bahwa nama “Subanlah”
diambil karena di tempat itu biasa digunakan beliau untuk sholat tasbih. Sawah
tersebut saat ini masih ada. Terletak 300 m sebelah barat makam dan berbentuk
hamper mirip segitiga.
Adalah sebuah kebiasaan di desa Selo
setelah panen mengadakan pertunjukan wayang kulit. Saat itu dalang dari
pertunjukan wayang kulit adalah Kiai Bicak. Saat pertunjukan berlangsung, Ki
Ageng Selo terpesona oleh kecantikan sang penabuh gender. Beliau ingin
menjadikannya seorang istri. Namun ternyata sinden tersebut sudah menikah, dan
menjadi istri dari dalang yang sedang menampilkan wayang kulit. Akhirnya, demi
mendapatkan penabuh gender Ki Ageng Selo membunuh Kiai Bicak.
Setelah terbunuhnya Kiai Bicak, Ki
Ageng Selo malah terpesona melihat kempul salah satu perangkat Ki dalang dan
melupakan keinginannya untuk memperistri penabuh gender. Selanjutnya, kempul
itu diambil. Datanglah kanjeng Sunan Kalijaga dan berkata “Ngger, ketahuialah
bahwa kempul ini bisa dijadikan sebuah pertanda saat anak cucumu kelak akan
memulai pertempuran. Jika dipukul, dan menghasilkan suara yang merdu atau keras
dan panjang itu pertanda kegembiraan atas kemenangan yang memiliki kempul.
Namun sebaliknya, jika dipukul mengeluarkan suara bengkok, maka pertanda
kekelahan bagi yang memiliki kempul. Berilah nama pada kempul itu, dengan nama
Kiai Bicak”. Saat ini, kempul ini masih ada dan dijaga dengan baik sebagai
salah satu pusaka keraton Surakarta.
Dikisahkan
ketika, kerajaan Demak mengadakan perekrutan prajurit tamtama. Ki Ageng Selo
pun berkeinginan untuk menjadi prajurit tersebut. Salah satu syarat yang harus
dipenuhi bagi pelamar prajurit adalah dapat membunuh banteng dengan tangan
kosong. Tiba saat bagi Ki Ageng Selo melawan banteng tersebut. Saat hendak
membunuh, beliau memalingkan mukanya agar tidak terkena percikan darah. Karena
sikap inilah Ki Ageng Selo tidak diterima menjadi prajurit tamtama. Beliau
dianggap kurang berani dalam melihat darah musuhnya.
Penolakan
ini membuat Ki Ageng Selo marah, dan akhirnya beliau pulang ke desa Selo.
Setibanya di rumah, beliau mengumpulkan sanak saudara dan berniat memerangi
Demak. Namun, tingkah ini diketahui oleh raja Demak saat itu, dan raja langsung
memerintahkan prajuritnya untuk bersembunyi dan mengosongkan alun-alun. Saat Ki
Ageng Selo tiba, tanpa basa-basi raja Demak melepaskan busur gadewa ke arah
kuda yang dinaiki Ki Ageng Selo. Kudanya pun terluka, dan akhirnya Ki Ageng
Selo memutuskan untuk pulang ke desa Selo. Karena mendapatkan kegagalan dua
kali, beliau memutuskan untuk melanjutkan kehidupan sebagai petani dan pertapa.
Dengan bertapa mendekatkan diri dengan sang Kholiq akan membuat kehidupan
menjadi lebih tentram dan damai di dalam jiwa.
Cerita
ini sedikit berbeda jika didengar dari sudut pandang masyarakat. Penolakan Ki
Ageng Selo bukan karena beliau takut. Disisi Ki Ageng Selo mendengar bahwa
Demak sedang diserang sehingga beliau datang ke alun-alun untuk membantu.
Namun, ketika sampai di alun-alun beliau malah diserang oleh raja Demak karena
dianggap pemberontak.
Kejadian
ini membuat sunan Kalijaga sebagai guru dari Ki Ageng Selo datang menemui muridnya.
Sunan Kalijaga bertanya “ngger, apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar kamu
memberontak karena ingin menjadi raja? Jika memang kamu ingin menjadi raja saat
ini, mudah bagi kamu untuk membunuh Sultan Trenggono. Kerana memang kamu adalah
pemuda yang sakti. Namun perlu kamu pertimbangkan, bahwa jika kamu menjadi raja
saat ini maka anak turunmu kelak tidak akan pernah jadi raja”.
“Pilihan
kedua, kamu merelakan posisi raja saat ini namun anak turunmu akan menjadi raja
secara turun temurun”. Ki Ageng Selo pun memilih merelakan posisi raja saat ini
asalkan anak turunnya kelak menjadi seorang raja. Namun keinginan ini tidak
serta merta dapat terjadi tanpa adanya usaha. Sunan Kalijaga memberikan syarat
yang harus dipenuhi oleh Ki Ageng Selo yaitu “puasa ngrowot selama tujuh hari
dengan menu berbuka bayam raja dan kacang srodol yang diparuti dengan kelapa,
serta bersemedi mendekatkan diri kepada Allah dengan puasa lainnya dan sholat”.
Ditafsirkan bahwa bayam raja memiliki makna supaya anak turunnya akan menjadi raja,
dan kacang srondol bermakna supaya anak turun yang menjadi raja tidak akan
tergeser oleh pihak lain dan akan menjadi raja secara turun-temurun.
Sudah
menjadi aktifitas sehari-hari Ki Ageng Selo pergi ke sawah. Di suatu pagi, Ki
Ageng Selo berangkat ke sawah dengan cangkul diletakkan di pundak, dan tanpa
alas kaki. Cuaca yang gerimis saat itu tidak bisa mengubah niat awal beliau
untuk terus bekerja. Saat sibuk mencangkul, datanglah petir yang
menyambar-nyambar. Petir itu mencoba menyerang beliau dengan wujud yang
berubah-ubah dan diiringi suara yang dahsyat. Petir muncul pertama dengan wujud
seorang kakek, berubah jadi naga, dan berubah wujud berkalai-kali menjadi
makhluk yang mengerikan di hadapan beliau. Petir yang mencoba menyerang Ki
Ageng Selo dengan wujud-wujud yang mengerikan ternyata membuat Ki Ageng Selo
marah karena pekerjaan beliau menjadi terganggu.
Ki
Ageng Selo memutuskan menghadapi petir tersebut dengan penuh keberanian
sehingga terjadilah pertempuran antara Ki Ageng Selo dan petir yang menyerangnya.
Akhirnya petir dapat dikalahkan dan beliau membawa pulang petir tersebut. Petir
tersebut berwujud seorang kakek, dan diikatlah makhluk tersebut di pohon Gandri
depan kediaman Ki Ageng Selo.
Kehebatan
Ki Ageng Selo dalam menangkap petir terdengar oleh gurunya Sunan Kalijaga.
Sunan kalijaga pun berkata “wah, muridku yang ini telah menunjukkan
kesaktiannya dengan menangkap petir. Kejadian ini akan membuat ramai seluruh
penjuru Demak”. Oleh karenanya, sunan Kalijaga datang menemui Ki Ageng Selo dan
diperintahkanlah Ki Ageng Selo untuk membawa petir uang ditangkapnya dan
dihaturkan kepada raja Demak. Ketika hendak dibawa, makhluk yang berupa kakek
itu berubah wujud lagi disertai suara dahsyat petir di langit.
(Pohon
Gandri, tempat Ki Ageng Selo mengikat petir yang beliau tangkap)
Pada
saat yang bersamaan, suasana duka menyelimuti penjuru Demak karena meninggalnya
Pangeran Sabrang Lor. Maka seusai sholat jum’at, berkumpulah semua wali, kiai,
serta sanak keluarga di halaman depan masjid Demak untuk memilih raja penerus
kerajaan Demak.
Datanglah
Ki Ageng Selo dengan membawa petir yang beliau tangkap. Kemudian berdo’alah
semua wali, kiai, dan sanak saudara memohon kepada Allah SWT agar selamat dari
marabahaya. Ditengah ritual do’a yang dipanjatkan munculah seprang nenek
menghampiri makhluk yang berwujud seorang kakek. Tanpa sepatah kata pun, nenek
menyiramkan air yang dibawanya kepada kakek. Bersamaan dengan itu terdengarlah
suara dahsyat seperti saat Ki Ageng Selo menangkap petir itu dan saat itu pula
lenyaplah kakek dan nenek tersebut. Terdapat percikan api yang ditimbulkan saat
lenyapnya kakek dan nenek tersebut. Api itu saat ini masih ada dan disimpan
dengan baik dan diletakkan di almari. Alamari tersebet saat ini berada di
belakang peristirahatan Ki Ageng Selo.
Menurut
cerita rakyat desa Selo, petir yang ditangkap Ki Ageng Selo tidak hanya dilihat
oleh para wali dan keluarga kerajaan. Namun, petir itu di pajang di alun-alun
Demak, Petir yang berubah-ubah wujudnya menjadi tontonan menarik bagi
masyarakat. Kemudian, datanglah seorang nenek dengan membawa “kendi” untuk
minum. Nenek memberikan air minum itu kepada kakek, dan bersamaan dengan itu
lenyaplah kakek dan nenek tersebut. Masyarakat desa Selo beranggapan bahwa,
nenek yang memberikan minum kakek adalah istri dari kakek yang berusaha
membebaskan si kakek.
(Alamri, tempat penyimpanan percikan
petir)
Masyarakat
desa Selo percaya bahwa mereka akan dilindungi dari petir yang akan menyambar.
Mereka cukup berkata “aku adalah cucu Ki Ageng Selo” saat ada petir yang
menyambar. Masyarakat percaya bahwa petir akan takut untuk mendekat kepada
mereka cucu dari Ki Ageng Selo. Karena petir pernah ditangkap oleh Ki Ageng
Selo
Setelah
kejadian tersebut para wali memutuskan melukis petir yang ditangkap Ki Ageng
Selo dengan wujud aslinya yaitu seekor naga. Naga inilah yang digambarkan di
pintu gerbang utama masjid. Sekarang pun masih bisa dilihat dan ditemukan
makhluk yang luar biasa itu di masjid Demak.
Kejadian
penangkapan petir itu berada di sawah milik Ki Ageng Selo. Yang warga desa Selo
menyebutnya dengan nama “Sawah Mendung” (sawah yang selalu diliputi awan
gelap). Sawah mendung ini berbentuk seperti bukit “blenduk”. Sawah ini terletak
berdekatan dengan sawah subanlah.
Kehebatan
Ki Ageng Selo dalam menangkap petir menjadikan beliau disegani. Tidak hanya
sakti namun beliau juga menguasai ilmu-ilmu agama. Karena kelebihan inilah,
banyak dari masyarakat yang berguru padanya. Lama-kelamaan muridnya pun semakin
banyak, akhirnya kediaman beliau menjadi sebuah padepokan yang dinamai
“Padepokan Ki Ageng Selo”.
(Pintu Bledeg)
Setiap
ilmu yang Ki Ageng Selo dapatkan dari gurunya (Sunan Kalijaga) diajarkan kepada
muridnya. Beliau menerapkan setiap kebiasaan sunan Kalijaga di padepokan
tersebut. Salah satunya adalah memulai kegiatan belajar dengan makan bersama,
dengan seorang guru yang duduk di tengah dan memanjatkan do’a. setelah selesai
berdo’a saatnya makan bersama, dan beliau menganjurkan untuk makan secukupnya.
Kemudian dilanjutkan belajar ilmu kanuragan, kejawen, dan ilmu agama.
Ki
Ageng Selo juga mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak mendahulukan
kebutuhan pribadi apalagi yang bersifat keduniawian. Ki Ageng Selo lebih
menitik beratkan ajarannya pada “kesakten jati dan keprawiran jati” agar
murid-muridnya menjadi linuwih, pinunjul, bijaksana, dan berjiwa lapang atau
“berbudi bawa laksana”.
Suatu
hari datanglah Jaka Tingkir untuk “ngenger” atau berguru pada Ki Ageng Selo dan
Ki Ageng Selo menganggap Jaka Tingkir seperti cucunya sendiri. Juru kunci makam
Ki Ageng Selo mengutarakan bahwa jalan yang ditempuh oleh Jaka Tingkur saat
berguru kepada Ki Ageng Selo adalah melalui jalur sungai. Yaitu sungai Lusi
yang letaknya tidak terlalu jauh dari makam Ki Ageng Selo.
Setiap
ajaran dan amanah Ki Ageng Selo masih dipegang oleh seluruh masyarakat desa
Selo. Salah satu amanah yang dipegang secara turun temurun adalah “bagi anak
turun Ki Ageng Selo tidak boleh menjual nasi”. Amanah ini bermula saat Ki Ageng
Selo sedang berada di kediaman, datanglah seseorang yang bertamu. Beliau
menyambut tamu tersebut dengan ramah. Beliau dan tamunya berdialog dan
berbincang-bincang dengan khidmat. Tiba saatnya makan siang. Sudah menjadi
kebiasaan di kampung jika kedatangan tamu, tuan rumah menjamu mereka dengan
makan bersama.
Ki
Ageng Selo berkata “mari, kita makan bersama”. Dan tamu menjawab “nyuwun
pangatunten yi, saya tidak bisa ikut makan”. Alangkah kagetnya beliau kemudian
bertanya “mengapa demikian?”. Tamu pun menjawab “karena saya sebelum kemari
sudah makan di warung nasi depan”. Setelah tamu pulang, beliau termenung karena
hatinya merasa sedih. Beliau ingin bersedekah namun ditolak. Akhirnya beliau
beramanat “bagi anak cucuku masyarakat desa selo kelak, janganlah menjual nasi
di daerah selo supaya jika kalian menerima tamu, kalian bisa bersedekah dengan
memberikan makan”.
Sampai
saat ini di daerah makam Ki Ageng Selo tidak ada yang menjual nasi. Pernah
suatu ketika ada warga desa yang menjual nasi di komplek makam Ki Ageng Selo,
yang berujung hujan sangat deras disertai petir yang sangat menggelegar.
Sampai-sampai petir menyambar bagian atas masjid Ki Ageng Selo dan patah.
Masyarakat meyakini adanya hujan serta guntur yang menakutkan diakibatkan
adanya warga yang menjual nasi di daerah komplek makam Ki Ageng Selo. Adanya
pengalaman itu, masyarakat desa Selo tidak berani lagi menjual nasi di komplek
makam Ki Ageng Selo dan mereka akan melaksanakan amanat Ki Ageng Selo dengan
sebaik-baiknya.
Kisah
lain, yang dijadikan amanah bagi masyarakat desa Selo adalah “tidak boleh
menanam Waluh di depan rumah”. Kisahkan suatu sore Ki Ageng Selo dengan
anak-anaknya sedang melepas penat dan lelah di halaman rumah karena telah
bekerja seharian. Tiba-tiba datanglah orang gila yang mengamuk dan
berteriak-teriak sambil merusak tanaman beliau. Kejadian ini membuat beliau
panic sehinnga beliau berlari menyelamatkan anaknya. Dalam keadaan berlari di
halaman rumah beliau terjatuh karena kakinya terjerat tanaman waluh yang
mengakibatkan tubuh beliau terpelanting.
Setelah
bangun dari jatuhnya beliau pun beramanah “kepada anak cucuku kelak, janganlah
kalian menanam waluh di depan rumah”. Masyarakat menafsirkan amanah tersebut
bahwa tanaman waluh adalah tanaman menjalar yang sangat mengganggu jika
diletakkan di deepan rumah. Jika memang diletakkan di depan rumah, maka sama
dengan mengahalangi jalan orang lain untuk melangkah. Dan menghalangi jalan
orang lain untuk melangkah adalah perbuatan yang tidak baik. Masyarakat
beranggapan bahwa mereka tidak boleh mengganggu dan menghalangi jalan orang lain.
Berkat
usaha dan do’a yang selalu dipanjatkan Ki Ageng Selo, keturunannya mampu
mendirikan kerajaan besar islam yaitu “Mataram Islam”. Dengan perkembangannya
saat ini menjadi Keraton Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku
Buwono dan Keraton Surakarta dipimpin oleh Paku buwono.
B.
Punden
Ki Ageng Selo
Punden adalah sebutan makam tempat penguburan orang yang telah meninggal.
Di Jawa, punden adalah salah satu tempat yang dianggap sakral. Bahkan sebagian
cenderung keramat. Makam orang islam di Indonesia pada umumnya diberi nisan.
Nisan kuno yang bercirikan islam umumnya dihiasi dengan tulisan arab.
Ki Ageng Selo adalah salah satu
tokoh yang sangat penting atas lahirnya kerajaan Mataram Islam. Karena memang
termasuk leluhur mereka. Berbagai macam perlakuan telah diberikan oleh
keturunan Mataram sebagai wujud penghormatan atas Ki Ageng Selo (leluhur). Sehingga
dibangunlah makam peristirahatan Ki Ageng Selo oleh keturunan Mataram. Makam
ini dibangun setelah selang waktu yang cukup lama dari meninggalnya Ki Ageng
Selo. Makam Ki Ageng Selo dibangun di kediaman asli Ki Ageng Selo di desa Selo.
Pada makam Ki Ageng Selo, diberi nisan. Makam ini juga diberi cungkup
dan klambu. Cungkup yang dibangun diatas nisan ini berpintu dua. Tidak
sembarang orang (pengunjung) bisa masuk cungkup ini. Mereka harus menati syarat
tertentu. Jika ingin masuk gapura ini mereka harus membawa sekar (bunga) dan
tidak boleh masuk pada malam jum’at. Membawa sekar sebagai bentuk salam
penghormatan, dan do’a. menghindari malam jum’at karena juru kunci menganggap
malam jum’at adalah malam yang keramat.
Makam Ki Ageng Selo dilengkapi
dengan tembok dan gapura. Bentuk gapura ini beratap dan berpintu. Pintu masuk
makam ini dibuka wajib pada hari kamis sampai dengan malam jum’at karena
peziarah memang ramai berkunjung. Tujuanya adalah berwashilah lewat Ki Ageng
Selo agar permohonannya dapat dikabulkan Allah. Jika mereka (peziarah)
berkunjung pada hari selain hari ziarah, maka peziarah harus meminta ijin pada
juru kunci agar membuka pintu masuk.
Di dekat makam terdapat masjid utama
desa Selo. Masjid ini bernama masjid “Ki Ageng Selo”. Masjid dan mimbar untuk
imam ini terbuat dari kayu jati. Menurut juru kunci masjid dan makam ini
dibangun kembali pada masa Paku Buwana X. Setelah wafatnya Paku Buwana X,
penghormatan masih terus dilakukan oleh para penerusnya. Dapat kita lihat,
kondisi masjid dan makam ini sangat baik. Pengurusan masjid dan makam tidak
hanya dibebankan pada pihak keratin Solo, namun juga masyarakat sekitar. Karena
makam dan masjid ini adalah bukti sejarah kehebatan leluhur masyarakat Selo.

(Kondisi Makam Ki Ageng Selo)
C.
Kirab
Pusaka di Desa Selo
Selo, adalah sebuah desa yang
terletak kurang lebih 10 km dari kota Purwodadi. Jika mendengar nama desa
“Selo” di benak pastilah terfikir seorang wali yaitu “Ki Ageng Selo”. Desa ini
dinamai Selo karena dahulu Ki Ageng Selo pernah berkata bahwa “disinilah
tempatnya orang yang susila”. Arti dari “orang yang susila” adalah orang yang
memiliki adab dan sopan santun.
Di desa ini terdapat makam Ki Ageng
Selo. Makam ini adalah tempat peristirahatan terakhir Ki Ageng Selo. Ki Ageng
Selo adalah seorang tokoh yang sangat berpengaruh atas perkembangan islam di
Jawa. Beliau dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai cikal bakal yang menurunkan
raja-raja di tanah Jawa. Bahkan pemujaan atau bentuk terima kasih kepada makam
Ki Ageng Selo masih ditradisikan oleh masyarakat desa Selo.
Salah satu tradisi yang cenderung
masih baru adalah “Kirab Budaya” yang dilaksanakan di desa Selo. Dikatakan baru
sebab tradisi kirab disini baru dilaksanakan sebanyak 5 kali. Pak Rokhim
sebagai juru kunci makam berkata “pada hakikatnya tradisi ini ada atau dibuat
sebagai bentuk terima kasih atas jasa yang Ki Ageng Selo lakukan kepada rakyat
Selo”. Selain itu kirab disini juga merupakan wujud rasa syukur kepada Sang
Maha Tinitah yang diyakini sebagai Dzat Suci yang member hidup dan menghidupi
(Allah SWT)
Kirab di desa Selo bermakana “ikut nguru-nguri
kejadian masa lalu yang Ki Ageng Selo lakukan” kata pak Rokhim. Kirab dilakukan
dengan arak-arakan mengelilingi kawasan panjimatan yang sebagian tanah disini
adalah milik keratin Surakarta. Juru kunci menempatkan pelaksanaan kirab budaya
pada malam minggu, minggu pertama bulan asyura. Ditempatkan pada hari minggu
agar masyarakat bisa melihat arak-arakan karena minggu adalah hari libur.
Diambil pada minggu pertama agar tidak terlalu menyalahi makna sesungguhnya
dari kirab. Yang pada umumnya kirab dilaksanakan pada malam 1 asyura, disini
diletakkan pada minggu pertama. Dilakukan demikian pula, agar tidak berpapasan
dengan Kirab di Solo. Karena memang kirab di Solo dilaksanakan tepat pada malam
1 asyura. Walaupun suatu saat perputaran kalender akan mempertemukan kirab Solo
dan Selo pada hari yang sama.
Kirab budaya di desa Selo di lakukan
khusus oleh abdi dalem sera para jama’ah sholat fardhu. Setelah pelaksanaan
pertama tahun tahun 2010, pengiring kirab semakin banyak. Pengiring terdiri
atas masyarakat desa Selo dan luar Selo. Pada intinya siapa saja yang ingin
ikut meramaikan kirab budaya sebagai pengiring disini diperbolehkan. Sebelum
melaksanakan kirab budaya ada beberapa ritual yang harus dilaksanakan. Antara
lain pada hari sebelum dilaksanakannya kirab abdi dalem melaksanakan puasa. Hal
ini dimaksudkan bahwa bulan asyura adalah bulan yang sakral. Sehingga makna
kirab tidak hanya arak-arakan namun juga
malam tirakatan. Diadakan pula istighosah bersama dengan para jama’ah fardhu
masjid Ki Ageng Selo sebelum dilaksanakanya kirab budaya. Istighosah
dilaksanakan seusai sholat isya’. Istighosah ini merupakan do’a yang
dipanjatkan agar pada bulan asyura ini mereka terhindar dari peristiwa buruk.
Pada saat pelaksanaan kirab, para abdi melakukan “poso bisu”. Artinya saat
mereka mengarak pusaka mereka diam. Dalam batin mereka selalu terucap dzikir
kepada Allah SWT.
Konsep Kirab yang dibuat disini
tidak jauh beda dengan kirab yang ada di Solo. Kirab budaya di desa Selo adalah
“Kirab Pusaka”. Pusaka yang diarak disini berupa api (percikan petir yang Ki
Ageng Selo tangkap), tombak (senjata dari Ki Ageng Selo), payung, dan kotak
jajanan pasar. Pusaka yang diarak disini sedikit karena semua pusaka sebagai
saksi kehebatan Ki Ageng Selo dibawa ke keraton Surakarta. Makam serta pusaka
yang dimiliki Ki Ageng Selo adalah tanggung jawab dari keraton Surakarta.
Pak Rokhim tidak menuntut akan
kehadiran pihak keraton Surakarta. Beliau memahami bahwa saat-saat itu pasti
dari keraton juga sedang sibuk. Namun beliau yakin, pasti ada utusan yang
datang dari keratin Surakarta untuk menghadiri kirab yang dilaksanakan di desa
Selo. Personil yang ikut meramaikan pelaksanaan kirab dari tahun ke tahun
semakin banyak. Bahkan banyak sekali tamu yang datang dari luar kota untuk
melihat tradisi ini. Juru kunci berharap kirab budaya di desa Selo semakin
tahun semakin baik.
Kirab budaya kelima dilaksanakan
pada 17 Nopember 2015. Pelaksanaan ini berlangsung dengan khidmat dan ramai.
Masyarakat Selo berbondong-bondong keluar rumah untuk dapat melihat arak-arakan
ini. Tidak hanya masyarakat Selo, namun juga luar Selo. Pada pelaksanaan kirab,
peziarah dari luar sengaja datang dengan jumlah 60. Bus berjajar memenuhi
seluruh jalan di desa Selo. Salah satu panitia peziarah berkata “kami berjumlah
60 bus datang dari kota yang berbeda-beda. Terdapat rombongan yang berasal dari
Pekalongan, Kendal, Demak dan berbagai kota di Jawa. Kami kemari untuk
berziarah dan juga melihat pelaksanaan kirab yang ada di desa Selo”.

(Pelaksanaan Kirab Budaya di desa Selo, Kec. Tawangharjo, Kab
Grobogan)

(Ramainya Kirab budaya tahun 2015)


(Api abadi percikan petir yang ditangkap Ki Ageng Selo)


(Tombak sebagai senjata dari Ki Ageng Selo)



(Payung)


(Kotak
berisi jajanan pasar)
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ki Ageng Selo adalah cikal bakal
yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Keturunan Ki Ageng Selo menjadi raja
mataram sampai saat yaitu keasunanan Surakarta dan kasunanan Yogyakarta.
Sejarah Ki Ageng Selo sangatlah
banyak. Ki Ageng adalah penangkap petir sehingga dijuluki “Sang Penakluk
Petir”. Petir yang ditangkap berwujud asli naga. Naga tersebut bisa dilihat di
puntu masjid agung Demak. Ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh
keturunan Ki Ageng Selo. Antara lain, tidak boleh menjual nasi dan tidak boleh
menanam tanaman waluh di depan rumah.
Karena begitu banyaknya peran beliau
bagi masyarakat Jawa khususnya desa Selo, sehingga dibuatlah makam. Makam ini
adalah sebuah wujud penghormatan dan bentuk terimakasih dari keturunan Ki Ageng
Selo. Makam ini didesain lebih mirip dengan bangunan masa majapahit.
Di makam ini juga terdapat banyak
tradisi yang dilaksanakan khususnya oleh abdi dalem. Salah satunya adalah
kirab. Kirab disini masih tergolong tradisi baru, karena tradisi ini baru
dilaksanakan sebanyak lima kali. Kirab disini adalah arak-arakan “pusaka”
peninggalan Ki Ageng Selo. Rute arak-arakan ini adalah mengelilingi seluruh
tanah panjimatan yang sebagian besar adalah tanah milik keratin Surakarta.
Tradisi ini sangat ditunggu-tunggu masyarakatbahkan rela berbondong-bondong
keluar rumah untuk melihatnya. Tak heran, tamu yang sengaja datang untuk
melihatnya tidaklah terkira. Dilhat pada pelaksanaan kirab 2015 kemarin, tamu
dari luar daerah Selo tercatat sebanyak 60 bus. Mereka datang dari berbagai
daerah, antara lain Pekalongan, Demak, dan lain sebagainya.
B.
Saran
Demikian laporan miniriset yang
dapat saya paparkan. Saya menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih
jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat
dibutuhkan demi perbaikan. Semoga paparan ini bisa memberikan manfaat dan
pengetahuan bagi pembaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar