Rabu, 30 Desember 2015

Mini Riset Tradisi Kirab di Makam Ki Ageng Selo


LAPORAN MINI RISET

TRADISI KIRAB DI MAKAM KI AGENG SELO
DI DESA SELO, KEC. TAWANGHARJO, KAB. GROBOGAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS
Mata kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu:  M. Rikza Chamami M. Pd
Kelas : PM 5C



Oleh :
MUSTHALIHAH
(133511087)


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kakek nenek adalah sosok figure yang hidup sebelum kita dilahirkan. Mereka memiliki segudang pengetahuan sejarah tempo dulu. Kebanyakan dari mereka peduli dan mampu menceritakan sejarah yang mereka dapatkan secara turun temurun. Tak heran, jika mereka juga mampu menceritakan asal-usul nama daerah mereka, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lain sebagainya.
Namun, jika dilihat saat ini banyak sekali dari anak muda yang lupa akan leluhur mereka. Bahkan anak muda saat ini cenderung acuh akan hal tersebut. Budaya dari leluhur pun luput dari ingatan anak muda saat ini. Berbeda sekali dengan masyarakat terdahulu.
Demi membangkitkan rasa sadar akan tanggung jawab saya dan pemuda lainnya, mulai dari saya akan mencoba berubah. Sebagai salah satu anak turun dari Ki Ageng Selo sudah sepatutnya bagi saya dan seluruh keturunan lainnya mengerti dan memahami akan sejarah leluhur kami. Dengan adanya laporan ini semoga anak turun Ki Ageng Selo mampu menceritakan asal-usul daerah Selo, silsilah keturunan Ki Ageng Selo, sejarah Ki Ageng Selo, dan peduli akan budaya, dan tradisi yang dilaksanakan di desa Selo.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana silsilah keturunan Ki Ageng Selo?
2.      Bagaimana sejarah tokoh Ki Ageng Selo?
3.      Apa makna bentuk punden Ki Ageng Selo?
4.      Bagaimana tradisi “Kirab Pusaka” di Desa Selo?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Silsilah Keturunan Ki Ageng Selo
Silsilah Ki Ageng Selo menurut juru kunci (Terlampir)
 
A.    Sejarah Tokoh Ki Ageng Selo
Ki Ageng Selo adalah sebutan seseorang yang dituakan di desa Selo. Selain itu, beliau juga dikenal dengan nama Ki Ageng Selo Kertabhaya Syeh Abdurrahman karena memang nama asli beliau adalah Syeh Abdurrahman.
Ki Ageng Selo, diwaktu mudanya dipanggil dengan nama “Bagus Songgom”. Beliau adalah sosok pemuda yang sombong dan angkuh karena beliau merasa keturunan dari orang yang berwibawa (Getas Pendawa). Namun, sifat buruknya mampu diobati setelah melewati beberapa pengalaman hidup yang pahit. Mulai dari sinilah, beliau sadar bahwa setiap makhluk yang Allah SWT ciptakan memiliki keterbatasan. Sehingga, jalan satu-satunya yang harus beliau tempuh hanyalah bertaubat dan meminta ampunan pada Allah SWT dengan bertapa. Maka bergurulah beliau kepada sunan Kalijaga. Ki Ageng Selo adalah salah satu murid sakti yang dimiliki sunan Kalijaga.
Kegiatan sehari-hari Ki Ageng Selo adalah pergi ke sawah. Beliau adalah seorang petani yang memiliki beberepa sawah. Saat panen tiba, hasil panen panen garapannya tidak digunakan sendiri, melainkan dibagi-bagikan kepada warga setempat. Beliau sangat disiplin dalam membagi waktu antara pergi ke sawah dan beribadah kepada Allah SWT. Tak heran jika sholat lima waktu selalu ditegakkan meski berada di sawah. Sampai-sampai, nama setiap petak sawah dihubungkan dengan kegiatan ibadah yang beliau kerjakan. Sawah “Subanlah” adalah salah satu nama yang beliau berikan karena beliau ketika menggarapnya selalu berdzikir membaca tasbih “Subhanallah”. Namun, terdapat juga cerita dari masyarakat setempat bahwa nama “Subanlah” diambil karena di tempat itu biasa digunakan beliau untuk sholat tasbih. Sawah tersebut saat ini masih ada. Terletak 300 m sebelah barat makam dan berbentuk hamper mirip segitiga.
Adalah sebuah kebiasaan di desa Selo setelah panen mengadakan pertunjukan wayang kulit. Saat itu dalang dari pertunjukan wayang kulit adalah Kiai Bicak. Saat pertunjukan berlangsung, Ki Ageng Selo terpesona oleh kecantikan sang penabuh gender. Beliau ingin menjadikannya seorang istri. Namun ternyata sinden tersebut sudah menikah, dan menjadi istri dari dalang yang sedang menampilkan wayang kulit. Akhirnya, demi mendapatkan penabuh gender Ki Ageng Selo membunuh Kiai Bicak.
Setelah terbunuhnya Kiai Bicak, Ki Ageng Selo malah terpesona melihat kempul salah satu perangkat Ki dalang dan melupakan keinginannya untuk memperistri penabuh gender. Selanjutnya, kempul itu diambil. Datanglah kanjeng Sunan Kalijaga dan berkata “Ngger, ketahuialah bahwa kempul ini bisa dijadikan sebuah pertanda saat anak cucumu kelak akan memulai pertempuran. Jika dipukul, dan menghasilkan suara yang merdu atau keras dan panjang itu pertanda kegembiraan atas kemenangan yang memiliki kempul. Namun sebaliknya, jika dipukul mengeluarkan suara bengkok, maka pertanda kekelahan bagi yang memiliki kempul. Berilah nama pada kempul itu, dengan nama Kiai Bicak”. Saat ini, kempul ini masih ada dan dijaga dengan baik sebagai salah satu pusaka keraton Surakarta.
Dikisahkan ketika, kerajaan Demak mengadakan perekrutan prajurit tamtama. Ki Ageng Selo pun berkeinginan untuk menjadi prajurit tersebut. Salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi pelamar prajurit adalah dapat membunuh banteng dengan tangan kosong. Tiba saat bagi Ki Ageng Selo melawan banteng tersebut. Saat hendak membunuh, beliau memalingkan mukanya agar tidak terkena percikan darah. Karena sikap inilah Ki Ageng Selo tidak diterima menjadi prajurit tamtama. Beliau dianggap kurang berani dalam melihat darah musuhnya.
Penolakan ini membuat Ki Ageng Selo marah, dan akhirnya beliau pulang ke desa Selo. Setibanya di rumah, beliau mengumpulkan sanak saudara dan berniat memerangi Demak. Namun, tingkah ini diketahui oleh raja Demak saat itu, dan raja langsung memerintahkan prajuritnya untuk bersembunyi dan mengosongkan alun-alun. Saat Ki Ageng Selo tiba, tanpa basa-basi raja Demak melepaskan busur gadewa ke arah kuda yang dinaiki Ki Ageng Selo. Kudanya pun terluka, dan akhirnya Ki Ageng Selo memutuskan untuk pulang ke desa Selo. Karena mendapatkan kegagalan dua kali, beliau memutuskan untuk melanjutkan kehidupan sebagai petani dan pertapa. Dengan bertapa mendekatkan diri dengan sang Kholiq akan membuat kehidupan menjadi lebih tentram dan damai di dalam jiwa.
Cerita ini sedikit berbeda jika didengar dari sudut pandang masyarakat. Penolakan Ki Ageng Selo bukan karena beliau takut. Disisi Ki Ageng Selo mendengar bahwa Demak sedang diserang sehingga beliau datang ke alun-alun untuk membantu. Namun, ketika sampai di alun-alun beliau malah diserang oleh raja Demak karena dianggap pemberontak.
Kejadian ini membuat sunan Kalijaga sebagai guru dari Ki Ageng Selo datang menemui muridnya. Sunan Kalijaga bertanya “ngger, apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar kamu memberontak karena ingin menjadi raja? Jika memang kamu ingin menjadi raja saat ini, mudah bagi kamu untuk membunuh Sultan Trenggono. Kerana memang kamu adalah pemuda yang sakti. Namun perlu kamu pertimbangkan, bahwa jika kamu menjadi raja saat ini maka anak turunmu kelak tidak akan pernah jadi raja”.
“Pilihan kedua, kamu merelakan posisi raja saat ini namun anak turunmu akan menjadi raja secara turun temurun”. Ki Ageng Selo pun memilih merelakan posisi raja saat ini asalkan anak turunnya kelak menjadi seorang raja. Namun keinginan ini tidak serta merta dapat terjadi tanpa adanya usaha. Sunan Kalijaga memberikan syarat yang harus dipenuhi oleh Ki Ageng Selo yaitu “puasa ngrowot selama tujuh hari dengan menu berbuka bayam raja dan kacang srodol yang diparuti dengan kelapa, serta bersemedi mendekatkan diri kepada Allah dengan puasa lainnya dan sholat”. Ditafsirkan bahwa bayam raja memiliki makna supaya anak turunnya akan menjadi raja, dan kacang srondol bermakna supaya anak turun yang menjadi raja tidak akan tergeser oleh pihak lain dan akan menjadi raja secara turun-temurun.
Sudah menjadi aktifitas sehari-hari Ki Ageng Selo pergi ke sawah. Di suatu pagi, Ki Ageng Selo berangkat ke sawah dengan cangkul diletakkan di pundak, dan tanpa alas kaki. Cuaca yang gerimis saat itu tidak bisa mengubah niat awal beliau untuk terus bekerja. Saat sibuk mencangkul, datanglah petir yang menyambar-nyambar. Petir itu mencoba menyerang beliau dengan wujud yang berubah-ubah dan diiringi suara yang dahsyat. Petir muncul pertama dengan wujud seorang kakek, berubah jadi naga, dan berubah wujud berkalai-kali menjadi makhluk yang mengerikan di hadapan beliau. Petir yang mencoba menyerang Ki Ageng Selo dengan wujud-wujud yang mengerikan ternyata membuat Ki Ageng Selo marah karena pekerjaan beliau menjadi terganggu.
Ki Ageng Selo memutuskan menghadapi petir tersebut dengan penuh keberanian sehingga terjadilah pertempuran antara Ki Ageng Selo dan petir yang menyerangnya. Akhirnya petir dapat dikalahkan dan beliau membawa pulang petir tersebut. Petir tersebut berwujud seorang kakek, dan diikatlah makhluk tersebut di pohon Gandri depan kediaman Ki Ageng Selo.
Kehebatan Ki Ageng Selo dalam menangkap petir terdengar oleh gurunya Sunan Kalijaga. Sunan kalijaga pun berkata “wah, muridku yang ini telah menunjukkan kesaktiannya dengan menangkap petir. Kejadian ini akan membuat ramai seluruh penjuru Demak”. Oleh karenanya, sunan Kalijaga datang menemui Ki Ageng Selo dan diperintahkanlah Ki Ageng Selo untuk membawa petir uang ditangkapnya dan dihaturkan kepada raja Demak. Ketika hendak dibawa, makhluk yang berupa kakek itu berubah wujud lagi disertai suara dahsyat petir di langit.

(Pohon Gandri, tempat Ki Ageng Selo mengikat petir yang beliau tangkap)
Pada saat yang bersamaan, suasana duka menyelimuti penjuru Demak karena meninggalnya Pangeran Sabrang Lor. Maka seusai sholat jum’at, berkumpulah semua wali, kiai, serta sanak keluarga di halaman depan masjid Demak untuk memilih raja penerus kerajaan Demak.
Datanglah Ki Ageng Selo dengan membawa petir yang beliau tangkap. Kemudian berdo’alah semua wali, kiai, dan sanak saudara memohon kepada Allah SWT agar selamat dari marabahaya. Ditengah ritual do’a yang dipanjatkan munculah seprang nenek menghampiri makhluk yang berwujud seorang kakek. Tanpa sepatah kata pun, nenek menyiramkan air yang dibawanya kepada kakek. Bersamaan dengan itu terdengarlah suara dahsyat seperti saat Ki Ageng Selo menangkap petir itu dan saat itu pula lenyaplah kakek dan nenek tersebut. Terdapat percikan api yang ditimbulkan saat lenyapnya kakek dan nenek tersebut. Api itu saat ini masih ada dan disimpan dengan baik dan diletakkan di almari. Alamari tersebet saat ini berada di belakang peristirahatan Ki Ageng Selo.
Menurut cerita rakyat desa Selo, petir yang ditangkap Ki Ageng Selo tidak hanya dilihat oleh para wali dan keluarga kerajaan. Namun, petir itu di pajang di alun-alun Demak, Petir yang berubah-ubah wujudnya menjadi tontonan menarik bagi masyarakat. Kemudian, datanglah seorang nenek dengan membawa “kendi” untuk minum. Nenek memberikan air minum itu kepada kakek, dan bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek tersebut. Masyarakat desa Selo beranggapan bahwa, nenek yang memberikan minum kakek adalah istri dari kakek yang berusaha membebaskan si kakek.
           
(Alamri, tempat penyimpanan percikan petir)
Masyarakat desa Selo percaya bahwa mereka akan dilindungi dari petir yang akan menyambar. Mereka cukup berkata “aku adalah cucu Ki Ageng Selo” saat ada petir yang menyambar. Masyarakat percaya bahwa petir akan takut untuk mendekat kepada mereka cucu dari Ki Ageng Selo. Karena petir pernah ditangkap oleh Ki Ageng Selo
Setelah kejadian tersebut para wali memutuskan melukis petir yang ditangkap Ki Ageng Selo dengan wujud aslinya yaitu seekor naga. Naga inilah yang digambarkan di pintu gerbang utama masjid. Sekarang pun masih bisa dilihat dan ditemukan makhluk yang luar biasa itu di masjid Demak.
Kejadian penangkapan petir itu berada di sawah milik Ki Ageng Selo. Yang warga desa Selo menyebutnya dengan nama “Sawah Mendung” (sawah yang selalu diliputi awan gelap). Sawah mendung ini berbentuk seperti bukit “blenduk”. Sawah ini terletak berdekatan dengan sawah subanlah.
Kehebatan Ki Ageng Selo dalam menangkap petir menjadikan beliau disegani. Tidak hanya sakti namun beliau juga menguasai ilmu-ilmu agama. Karena kelebihan inilah, banyak dari masyarakat yang berguru padanya. Lama-kelamaan muridnya pun semakin banyak, akhirnya kediaman beliau menjadi sebuah padepokan yang dinamai “Padepokan Ki Ageng Selo”.
           
(Pintu Bledeg)
Setiap ilmu yang Ki Ageng Selo dapatkan dari gurunya (Sunan Kalijaga) diajarkan kepada muridnya. Beliau menerapkan setiap kebiasaan sunan Kalijaga di padepokan tersebut. Salah satunya adalah memulai kegiatan belajar dengan makan bersama, dengan seorang guru yang duduk di tengah dan memanjatkan do’a. setelah selesai berdo’a saatnya makan bersama, dan beliau menganjurkan untuk makan secukupnya. Kemudian dilanjutkan belajar ilmu kanuragan, kejawen, dan ilmu agama.
Ki Ageng Selo juga mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak mendahulukan kebutuhan pribadi apalagi yang bersifat keduniawian. Ki Ageng Selo lebih menitik beratkan ajarannya pada “kesakten jati dan keprawiran jati” agar murid-muridnya menjadi linuwih, pinunjul, bijaksana, dan berjiwa lapang atau “berbudi bawa laksana”.
Suatu hari datanglah Jaka Tingkir untuk “ngenger” atau berguru pada Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Selo menganggap Jaka Tingkir seperti cucunya sendiri. Juru kunci makam Ki Ageng Selo mengutarakan bahwa jalan yang ditempuh oleh Jaka Tingkur saat berguru kepada Ki Ageng Selo adalah melalui jalur sungai. Yaitu sungai Lusi yang letaknya tidak terlalu jauh dari makam Ki Ageng Selo.
Setiap ajaran dan amanah Ki Ageng Selo masih dipegang oleh seluruh masyarakat desa Selo. Salah satu amanah yang dipegang secara turun temurun adalah “bagi anak turun Ki Ageng Selo tidak boleh menjual nasi”. Amanah ini bermula saat Ki Ageng Selo sedang berada di kediaman, datanglah seseorang yang bertamu. Beliau menyambut tamu tersebut dengan ramah. Beliau dan tamunya berdialog dan berbincang-bincang dengan khidmat. Tiba saatnya makan siang. Sudah menjadi kebiasaan di kampung jika kedatangan tamu, tuan rumah menjamu mereka dengan makan bersama.
Ki Ageng Selo berkata “mari, kita makan bersama”. Dan tamu menjawab “nyuwun pangatunten yi, saya tidak bisa ikut makan”. Alangkah kagetnya beliau kemudian bertanya “mengapa demikian?”. Tamu pun menjawab “karena saya sebelum kemari sudah makan di warung nasi depan”. Setelah tamu pulang, beliau termenung karena hatinya merasa sedih. Beliau ingin bersedekah namun ditolak. Akhirnya beliau beramanat “bagi anak cucuku masyarakat desa selo kelak, janganlah menjual nasi di daerah selo supaya jika kalian menerima tamu, kalian bisa bersedekah dengan memberikan makan”.
Sampai saat ini di daerah makam Ki Ageng Selo tidak ada yang menjual nasi. Pernah suatu ketika ada warga desa yang menjual nasi di komplek makam Ki Ageng Selo, yang berujung hujan sangat deras disertai petir yang sangat menggelegar. Sampai-sampai petir menyambar bagian atas masjid Ki Ageng Selo dan patah. Masyarakat meyakini adanya hujan serta guntur yang menakutkan diakibatkan adanya warga yang menjual nasi di daerah komplek makam Ki Ageng Selo. Adanya pengalaman itu, masyarakat desa Selo tidak berani lagi menjual nasi di komplek makam Ki Ageng Selo dan mereka akan melaksanakan amanat Ki Ageng Selo dengan sebaik-baiknya.
Kisah lain, yang dijadikan amanah bagi masyarakat desa Selo adalah “tidak boleh menanam Waluh di depan rumah”. Kisahkan suatu sore Ki Ageng Selo dengan anak-anaknya sedang melepas penat dan lelah di halaman rumah karena telah bekerja seharian. Tiba-tiba datanglah orang gila yang mengamuk dan berteriak-teriak sambil merusak tanaman beliau. Kejadian ini membuat beliau panic sehinnga beliau berlari menyelamatkan anaknya. Dalam keadaan berlari di halaman rumah beliau terjatuh karena kakinya terjerat tanaman waluh yang mengakibatkan tubuh beliau terpelanting.
Setelah bangun dari jatuhnya beliau pun beramanah “kepada anak cucuku kelak, janganlah kalian menanam waluh di depan rumah”. Masyarakat menafsirkan amanah tersebut bahwa tanaman waluh adalah tanaman menjalar yang sangat mengganggu jika diletakkan di deepan rumah. Jika memang diletakkan di depan rumah, maka sama dengan mengahalangi jalan orang lain untuk melangkah. Dan menghalangi jalan orang lain untuk melangkah adalah perbuatan yang tidak baik. Masyarakat beranggapan bahwa mereka tidak boleh mengganggu dan menghalangi jalan orang lain.
Berkat usaha dan do’a yang selalu dipanjatkan Ki Ageng Selo, keturunannya mampu mendirikan kerajaan besar islam yaitu “Mataram Islam”. Dengan perkembangannya saat ini menjadi Keraton Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono dan Keraton Surakarta dipimpin oleh Paku buwono.
B.     Punden Ki Ageng Selo
Punden adalah sebutan makam tempat penguburan orang yang telah meninggal. Di Jawa, punden adalah salah satu tempat yang dianggap sakral. Bahkan sebagian cenderung keramat. Makam orang islam di Indonesia pada umumnya diberi nisan. Nisan kuno yang bercirikan islam umumnya dihiasi dengan tulisan arab.
Ki Ageng Selo adalah salah satu tokoh yang sangat penting atas lahirnya kerajaan Mataram Islam. Karena memang termasuk leluhur mereka. Berbagai macam perlakuan telah diberikan oleh keturunan Mataram sebagai wujud penghormatan atas Ki Ageng Selo (leluhur). Sehingga dibangunlah makam peristirahatan Ki Ageng Selo oleh keturunan Mataram. Makam ini dibangun setelah selang waktu yang cukup lama dari meninggalnya Ki Ageng Selo. Makam Ki Ageng Selo dibangun di kediaman asli Ki Ageng Selo di desa Selo.
Pada makam Ki Ageng Selo, diberi nisan. Makam ini juga diberi cungkup dan klambu. Cungkup yang dibangun diatas nisan ini berpintu dua. Tidak sembarang orang (pengunjung) bisa masuk cungkup ini. Mereka harus menati syarat tertentu. Jika ingin masuk gapura ini mereka harus membawa sekar (bunga) dan tidak boleh masuk pada malam jum’at. Membawa sekar sebagai bentuk salam penghormatan, dan do’a. menghindari malam jum’at karena juru kunci menganggap malam jum’at adalah malam yang keramat.
Makam Ki Ageng Selo dilengkapi dengan tembok dan gapura. Bentuk gapura ini beratap dan berpintu. Pintu masuk makam ini dibuka wajib pada hari kamis sampai dengan malam jum’at karena peziarah memang ramai berkunjung. Tujuanya adalah berwashilah lewat Ki Ageng Selo agar permohonannya dapat dikabulkan Allah. Jika mereka (peziarah) berkunjung pada hari selain hari ziarah, maka peziarah harus meminta ijin pada juru kunci agar membuka pintu masuk.
Di dekat makam terdapat masjid utama desa Selo. Masjid ini bernama masjid “Ki Ageng Selo”. Masjid dan mimbar untuk imam ini terbuat dari kayu jati. Menurut juru kunci masjid dan makam ini dibangun kembali pada masa Paku Buwana X. Setelah wafatnya Paku Buwana X, penghormatan masih terus dilakukan oleh para penerusnya. Dapat kita lihat, kondisi masjid dan makam ini sangat baik. Pengurusan masjid dan makam tidak hanya dibebankan pada pihak keratin Solo, namun juga masyarakat sekitar. Karena makam dan masjid ini adalah bukti sejarah kehebatan leluhur masyarakat Selo.
(Kondisi Makam Ki Ageng Selo)
C.     Kirab Pusaka di Desa Selo
Selo, adalah sebuah desa yang terletak kurang lebih 10 km dari kota Purwodadi. Jika mendengar nama desa “Selo” di benak pastilah terfikir seorang wali yaitu “Ki Ageng Selo”. Desa ini dinamai Selo karena dahulu Ki Ageng Selo pernah berkata bahwa “disinilah tempatnya orang yang susila”. Arti dari “orang yang susila” adalah orang yang memiliki adab dan sopan santun.
Di desa ini terdapat makam Ki Ageng Selo. Makam ini adalah tempat peristirahatan terakhir Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo adalah seorang tokoh yang sangat berpengaruh atas perkembangan islam di Jawa. Beliau dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai cikal bakal yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Bahkan pemujaan atau bentuk terima kasih kepada makam Ki Ageng Selo masih ditradisikan oleh masyarakat desa Selo.
Salah satu tradisi yang cenderung masih baru adalah “Kirab Budaya” yang dilaksanakan di desa Selo. Dikatakan baru sebab tradisi kirab disini baru dilaksanakan sebanyak 5 kali. Pak Rokhim sebagai juru kunci makam berkata “pada hakikatnya tradisi ini ada atau dibuat sebagai bentuk terima kasih atas jasa yang Ki Ageng Selo lakukan kepada rakyat Selo”. Selain itu kirab disini juga merupakan wujud rasa syukur kepada Sang Maha Tinitah yang diyakini sebagai Dzat Suci yang member hidup dan menghidupi (Allah SWT)
Kirab di desa Selo bermakana “ikut nguru-nguri kejadian masa lalu yang Ki Ageng Selo lakukan” kata pak Rokhim. Kirab dilakukan dengan arak-arakan mengelilingi kawasan panjimatan yang sebagian tanah disini adalah milik keratin Surakarta. Juru kunci menempatkan pelaksanaan kirab budaya pada malam minggu, minggu pertama bulan asyura. Ditempatkan pada hari minggu agar masyarakat bisa melihat arak-arakan karena minggu adalah hari libur. Diambil pada minggu pertama agar tidak terlalu menyalahi makna sesungguhnya dari kirab. Yang pada umumnya kirab dilaksanakan pada malam 1 asyura, disini diletakkan pada minggu pertama. Dilakukan demikian pula, agar tidak berpapasan dengan Kirab di Solo. Karena memang kirab di Solo dilaksanakan tepat pada malam 1 asyura. Walaupun suatu saat perputaran kalender akan mempertemukan kirab Solo dan Selo pada hari yang sama.
Kirab budaya di desa Selo di lakukan khusus oleh abdi dalem sera para jama’ah sholat fardhu. Setelah pelaksanaan pertama tahun tahun 2010, pengiring kirab semakin banyak. Pengiring terdiri atas masyarakat desa Selo dan luar Selo. Pada intinya siapa saja yang ingin ikut meramaikan kirab budaya sebagai pengiring disini diperbolehkan. Sebelum melaksanakan kirab budaya ada beberapa ritual yang harus dilaksanakan. Antara lain pada hari sebelum dilaksanakannya kirab abdi dalem melaksanakan puasa. Hal ini dimaksudkan bahwa bulan asyura adalah bulan yang sakral. Sehingga makna kirab tidak hanya arak-arakan  namun juga malam tirakatan. Diadakan pula istighosah bersama dengan para jama’ah fardhu masjid Ki Ageng Selo sebelum dilaksanakanya kirab budaya. Istighosah dilaksanakan seusai sholat isya’. Istighosah ini merupakan do’a yang dipanjatkan agar pada bulan asyura ini mereka terhindar dari peristiwa buruk. Pada saat pelaksanaan kirab, para abdi melakukan “poso bisu”. Artinya saat mereka mengarak pusaka mereka diam. Dalam batin mereka selalu terucap dzikir kepada Allah SWT.
Konsep Kirab yang dibuat disini tidak jauh beda dengan kirab yang ada di Solo. Kirab budaya di desa Selo adalah “Kirab Pusaka”. Pusaka yang diarak disini berupa api (percikan petir yang Ki Ageng Selo tangkap), tombak (senjata dari Ki Ageng Selo), payung, dan kotak jajanan pasar. Pusaka yang diarak disini sedikit karena semua pusaka sebagai saksi kehebatan Ki Ageng Selo dibawa ke keraton Surakarta. Makam serta pusaka yang dimiliki Ki Ageng Selo adalah tanggung jawab dari keraton Surakarta.
Pak Rokhim tidak menuntut akan kehadiran pihak keraton Surakarta. Beliau memahami bahwa saat-saat itu pasti dari keraton juga sedang sibuk. Namun beliau yakin, pasti ada utusan yang datang dari keratin Surakarta untuk menghadiri kirab yang dilaksanakan di desa Selo. Personil yang ikut meramaikan pelaksanaan kirab dari tahun ke tahun semakin banyak. Bahkan banyak sekali tamu yang datang dari luar kota untuk melihat tradisi ini. Juru kunci berharap kirab budaya di desa Selo semakin tahun semakin baik.
Kirab budaya kelima dilaksanakan pada 17 Nopember 2015. Pelaksanaan ini berlangsung dengan khidmat dan ramai. Masyarakat Selo berbondong-bondong keluar rumah untuk dapat melihat arak-arakan ini. Tidak hanya masyarakat Selo, namun juga luar Selo. Pada pelaksanaan kirab, peziarah dari luar sengaja datang dengan jumlah 60. Bus berjajar memenuhi seluruh jalan di desa Selo. Salah satu panitia peziarah berkata “kami berjumlah 60 bus datang dari kota yang berbeda-beda. Terdapat rombongan yang berasal dari Pekalongan, Kendal, Demak dan berbagai kota di Jawa. Kami kemari untuk berziarah dan juga melihat pelaksanaan kirab yang ada di desa Selo”.
(Pelaksanaan Kirab Budaya di desa Selo, Kec. Tawangharjo, Kab Grobogan)
(Ramainya Kirab budaya tahun 2015)
(Api abadi percikan petir yang ditangkap Ki Ageng Selo)
(Tombak sebagai senjata dari Ki Ageng Selo)
(Payung)
                                                      (Kotak berisi jajanan pasar)                 
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ki Ageng Selo adalah cikal bakal yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Keturunan Ki Ageng Selo menjadi raja mataram sampai saat yaitu keasunanan Surakarta dan kasunanan Yogyakarta.
Sejarah Ki Ageng Selo sangatlah banyak. Ki Ageng adalah penangkap petir sehingga dijuluki “Sang Penakluk Petir”. Petir yang ditangkap berwujud asli naga. Naga tersebut bisa dilihat di puntu masjid agung Demak. Ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh keturunan Ki Ageng Selo. Antara lain, tidak boleh menjual nasi dan tidak boleh menanam tanaman waluh di depan rumah.
Karena begitu banyaknya peran beliau bagi masyarakat Jawa khususnya desa Selo, sehingga dibuatlah makam. Makam ini adalah sebuah wujud penghormatan dan bentuk terimakasih dari keturunan Ki Ageng Selo. Makam ini didesain lebih mirip dengan bangunan masa majapahit.
Di makam ini juga terdapat banyak tradisi yang dilaksanakan khususnya oleh abdi dalem. Salah satunya adalah kirab. Kirab disini masih tergolong tradisi baru, karena tradisi ini baru dilaksanakan sebanyak lima kali. Kirab disini adalah arak-arakan “pusaka” peninggalan Ki Ageng Selo. Rute arak-arakan ini adalah mengelilingi seluruh tanah panjimatan yang sebagian besar adalah tanah milik keratin Surakarta. Tradisi ini sangat ditunggu-tunggu masyarakatbahkan rela berbondong-bondong keluar rumah untuk melihatnya. Tak heran, tamu yang sengaja datang untuk melihatnya tidaklah terkira. Dilhat pada pelaksanaan kirab 2015 kemarin, tamu dari luar daerah Selo tercatat sebanyak 60 bus. Mereka datang dari berbagai daerah, antara lain Pekalongan, Demak, dan lain sebagainya.
B.     Saran
Demikian laporan miniriset yang dapat saya paparkan. Saya menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan demi perbaikan. Semoga paparan ini bisa memberikan manfaat dan pengetahuan bagi pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar