Rabu, 30 Desember 2015

Makalah Interelasi Nilai Jawa dan Islam pada Aspek Politik



MAKALAH
INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM PADA ASPEK POLITIK

Dipresentasikan dalam Mata Kuliah
Islam dan Kebudaya Jawa
Kelas : PM-5C
Yang diampu oleh : M. Rikza Chamami, MSI

 
Oleh :
Riska Yani Wulan Sari                        (133511086)
Musthalikhah                                      (133511087)
M. Hafid Nasyrullah                           (133511090)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015

       I.            PENDAHULUAN
Budaya Jawa telah dibangun dalam proses historis yang sangat panjang sejak zaman Jawa Klasik, Jawa Islam, zaman Surakarta (Purbacaraka) bahkan sampai zaman modern sekarang ini.
Proses interaksi antara Islam dan budaya lokal Jawa itu berlangsung terus-menerus tanpa henti, kadang-kadang melalui proses integrasi,terkadang konflik, suatu jalan yang tidak terelakkan bila penyampaian pesan-pesan Islam menempuh jalan secara kultural dakwah yang sejuk dan damai, bukan jalan struktural, secara politik dan militer yang keras dan panas.
Demikian luas pembahasan Budaya Jawa, karena ia mencakup segala aspek kehidupan manusia di Jawa, menyangkut ekonomi, sosial, seni budaya, politik pemerintahan ilmu pengetahuan pandangan hidup dan lain-lain.
Salah satu pembahasan yang menarik mengenai interelasi budaya Jawa dengan aspek kehidupan manusia adalah mengenai hubugan nilai –nilai Jawa dan Islam yang dilihat dari aspek politik.

    II.            PERMASALAHAN
Rumusan masalah yang dapat dibahas adalah sebagai berikut.
1.      Bagaimana kedatangan Islam dan pengaruhnya terhadap politik?
2.      Bagaimana sistem kemasyarakatan Masyarakat Jawa?
3.      Bagaiman sistem politik masyarakat Jawa?
4.      Bagaimana interelasi budaya jawa dan Islam dalam aspek politik?

 III.            PEMBAHASAN
A.    Kedatangan Islam  dan Pengaruhnya Terhadap Politik
Marcopolo yang tinggal di Sumatera Utara sebagai utusan Kubali Khan pada tahun 1292,  mencatat bahwa sebuah kota pesisir yang bernama Perlak baru saja memeluk agama Islam. Pada tahun 1414 kerajaan Malaka yang didirikan di pantaibarat Malaya pada abad XIV masuk agama Islam. Pedagang – pedagang Islam dari Arab dan Gujarat, juga orang Jawa yang berkedudukan di Malaka, membawa agama Islam ke kota-kota pelabuhan pantai Utara Pulau Jawa.[1]
Sejak pertumbuhan dan perkembangan Islam di Jawa dengan munculnya kota pusat kerajaan Demak dan kota-kota pelabuhan yang pada saat itu memungkinkan perkembangannya. Hal itu karena kunci pelayaran dan perdagangan yang terbentang antara Selat Malaka melalui pesisir utara Pulau Jawa sampai Maluku sebagian besar ada di tangan pedagang – pedagang muslim.[2]
Menurut Lathiful Khuluq, minimal ada lima fase penyebaran Islam kepada masyarakat Jawa. Pertama, islamisasi yang dilakukan oleh para pedagang muslim dari India dan Arabia  kepada komunitas masyarakat biasa di pesisir pulau Jawa. Kedua, Islamisasi yang dilakukan oleh para ulama yang terkenal dengan sebutan “wali sanga”. Ketiga, islamisasi dibawah kerajaan Islam Mataram yang berpusat di pedalaman pulau Jawa, terutama pada masa Sultaan Agung. Keempat, Islamisasi yang diwarnai dengan makin maraknya gerakan pemurnian Islam yang dibawa ke nusantara pada abad ke -18. Kelima, Islamisasi yang ditandai dengan gerakan reformasi yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam seperti Sarekat islam.[3]
Menurut Legge agama Islam menjadi menarik bagi kota-kota pesisir dari dua segi. Disatu pihak sebagai lambang perlawanan terhadap Majapahit, di lain pihak karena agama Islam merupakan alternatif terhadap keseluruhan pandangan dunia Hindu. Ada dua keuntungan ketika merekamemeluk Islam, yaitu mereka akan menjadi sama kedudukan rohaninya dengan lawan-lawan potensisal yang beragama Islam, dan mereka juga dapat memperoleh bantuan kekuatan – kekuatan muslim yang sama terhadap lawan-lawan mereka yang bukan Islam.
Pada tahun 1526, Batam, Jawa Barat memeluk agam Islam dan berkembang menjadi negara yang kuat. Pada waktu yang sama Demak, Jawa Tengah,pada tahun 1511 telah menjadi kesultanan. Pada akhir abad XVI Senapati dari mataram berhasil memperluas pengaruhnya sampai ke Kediri. Beberapa tahun kemuadian Demak ditaklukkan. Penghancuran kota-kota perdagangan Jawa Utara oleh mataram memercepat kematian perdagangan Jawa antar pulau. Jawa Tengah dengan mentalitas politiknya yang terarah ke dalam kembali menjadi pusat kehidupan politik, budaya dan ekonomi Jawa.
Selama 150 tahun berikutnya kekuasaan  Mataram terus menyusut. Pada tahun 1755 Kerajaan Mataram untuk pertama kali dibagi dan terpecah ke dalam Kasultanan Surakarta di bawah susunan Paku Buana III, dan Kesultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwono I. Waktu tahun 1798 Indonesia diserahkan kepada pemerintah Belanda, kerajaan mataram hanya memiliki kedaulatan yang sangat terbatas. Pada saat itu tahta ke empat masih diduduki oleh keturunan keempat cabang keturunan Sultan Agung. Namun, hanya pemerintah Hamengku Buwono IX di Yogyakarta yang masih mempunyai arti politik. [4]
Pada akhir abad XVII hampir seluruh Pulau Jawa secara resmi beragama Islam. Kehadiran Islam di Jawa sejak awalnya mudah diterima karena pendakwahnya menyampaiakan Islam secara Harmonis yakni merengkuh tradisi yang baik sebagai bagian dari ajaran agama Islam.[5]Namun, dalam gaya kehidupan pengaruh tradisi Hindu Jawa lebih menonjol.
Pada akhir abad XIX, Belanda dalam rangka politik indirect menyerahkan pelaksanaan penarikan upeti kepada elit priyayi dalam negeri. Di pihak lain, hubungan yang semakin besar dengan negara- negar Timur Tengah mengakibatkan suatu gerakan pembaharuan dalam agama Islam sendiri. Mistik Jawa yang memang heterodok, tetapi memandang diri sebagai ungkapan keagamaan Islam dilolak sebagai bukan Islam lagi. Dengan sendirinya polarisasi antara aliran kebudayaan santri dan aliran yang berpegang pada kebudayaan Jawa semakin terasa.
Pada tahun 1913 dibentuk pengelompokan politik pertama dengan nama serikat Islam. Dalam waktu sepuluh tahun tubuh sarikat Islam terjadi konfrontasi antara yang berpedoman agama Islam dengan dengan yang perpedoman komunis. Sejak itu organisasi politik Indonesia berkembang menurut garis Islam dan “abangan”.[6]

B.     Sistem Kemasyarakatan Masyarakat Jawa
Dalam kenyataan hidup masyarakat Jawa, orang masih membeda-bedakan  golongan sosial orang Jawa yang dibedakan menjadi:
1.      Wong cilik (orang kecil), terdiri dari petani, dan mereka yang berpendapatan rendah.
2.      Kaum priyayi, terdiri dari pegawai dan orang-orang intelektual.
3.      Kaum ningrat, gaya hidupnya tidak jauh dengan kaum priyayi.

Selain penggolongan diatas, orang jawa juga dibedakan atas dasar keagamaan dalam dua kelompok, yaitu:
1.      Jawa kajawen, yang sering disebut abanganyang dalam kesadaran dan cara hidupnya ditentukan oleh tradisi Jawa pra Islam.
2.      Santri, yang memahami dirinya sebagai orang Islam yang berorientasi kuat terhadap agama Islam dan berusaha hidup menurut ajaran Islam.[7]

Secara administratif, suatu desa di Jawa biasanya disebut kelurahan yang dikepalai oleh seorang lurah. Sekelompok dari 15 sampai 25 desa merupakan suatu kesatuan administratif yang disebut kecamatan dan dikepalai oleh seorang camat.[8]

C.     Sistem Politik Masyarakat Jawa
D.H. Burger dalam bukunya Perubahan – Perubahan Struktur dalam Masyarakat Jawa menulis bahwa masyarakat jawa dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu para raja, bupati, kepala desa, dan rakyat jelata. Raja menjadi kedudukan tertinggi. Melihat begitu besar kekuasaan raja, maka para pujangga menyebutnya Gung Binatara, Bahu Dendha Nyakrawati (besar laksana kekuasaan dewa, memelihara hukum, dan penguasa dunia), maka dari itu raja dikatakan wewenag wisesa (amisdsa) ing sanagiri (berkuasa di seluruh negeri). Menurut doktrin atau konsep kekuasaan Jawa raja berkuasa mutlak, tetapi memiliki tanggung jawab yang besar.
Inilah yang menyebabkan masyarakat memilih pimpinan bukan atas dasar pilihan rasional tetapi emosional, oleh karena itu karisma lebih penting dari pada kemampuan.[9]
Sistem politik masyarakat Jawa dibagi menjadi dua masa yaitu sistem politik masyrakat Jawa pra Islam dan sistem politik masyarakat Jawa masa Islam.

1.      Sistem Politik Masyarakat Jawa Pra Islam
Mataram (kerajaan feodal) adalah kerajaan yang masyarakatnya tersusun berdasarkan pemilikkan tanah yang luas. Maha raja (kaisar) adalah pemillik tanah yang luas, jika ia tidak ingin kehilangan seluruh tanah miliknya maka ia harus membagi tanahnya kepada orang lain dengan kontrak feodal. Pada kontrak tersebut raja membagikan sebagian tanah miliknya kepada penguasa bawahan (bupati), lalu penguasa bawahan menyewakan tanah itu kepada petani yang dapat diserahkan pada Lurah. Sebagai imbalannya penguasa bawahan memberikan kesetiaan kepada raja dalam bentuk pasukan dan upeti. 
Kekuasaan politik dan status yang dimiliki oleh bupati jawa mengalami puncak perkembangannya selama periode kartasura di kerajaan Mataram. Para birokrat adalah pemimpin rakyat dan mereka yang memegang kekuasaan politik sebenarnya. Indikator birokrasi ini adalah penguasa lokal bukan hanya pengikut dari pemegagang kekuasaan pusat secara pribadi melainkan juga memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka, artinya bukan hanya mereka yang memilik pertalian darah melainkan pertalian ipar. Struktur birokrasi tersebut merupakan instrumental bagi penguasa pusat karena kepatuhan penguasa lokal selalu terjamin, akibatnya politik lokal sangat dipengaruhi oleh perjuangan kekuasaan pusat.
Dalam budaya Mataram, rakyat dikenal sebagai kawula dalem (hamba Raja). Raja berwenang mewajibkan semua pemuda berperan sebagai prajuritnya. Semua pejabat raja disebut abdi dalem (pegawai raja). Birokrasi itu ada yang mengurusi keperluan raja dan keluarganya. Pergantian tahta tidak pernah dilakuakan selama raja yang mendahuluinya masih hidup.[10]

2.      Sistem politik Masyrakat Jawa Masa Islam
Sistem politik masyarakat Jawa pada masa Islam ditandai dengan tampilnya Sunan Gunung Jati sebagai pemimpin agama dan politik di kesultanan Cirebon. Dalam sistem pemerintahan kesultanan Cirebon, sultan mempunyai kekuasaan tertinggi. Dalam tradisi Jawa biasanya, dia mendapat gelar Senopati ing Alaga yang memberi kesan bahwa angkatan perang ditetapkan dalam penyelenggaraan negara. Selain itu, Sultan mendapat  julukan sebagai kholifah Rasulallah dengan gelar sayyidin panatagama. Dalam masa perkembangannya Sunan gunung Jati selain membangun sarana dan prasarana kerajaan, beliau juga aktif dalam peperangan menghadapi serangan dari para adipati bawahan kerajaan Pakuan Padjajaran yang ada di sekitar Cirebon dan beberapa pertempuran besar untuk memperluas wilayahnya.
Keberhasilan aspek pemerintahan dan politik pada masa ini terbagi dalam beberapaa aspek. Pertama, wilayah bawahan keraajaan Cirebon.Kedua, Masjid Jami’ di ibukota.Ketiga, keraton Pakungwati (kediaman resmi Sunan Gunung Jati). Keempat, tembok keliling keraton. Kelima, tembok keliling ibukota.Keeman, jalan besar utama menuju pelabuhan dan ibukota. Ketujuh, pasukan Jagabaya yang semakin banyak, dan yang terakhir tata aturan pemerintahan yang rapi.
Menurut Sunardjo, strategi politik yang diterapkan Sunan Gunung Jati dalam pengembangan kesultan Cirebon adalah asas desentralisasi yang berpola pada pemerintahan kerajaan pesisir, yang menjadikan pelabuhan sebagai bagian yang sangat penting, sedangkan pedalaman menjadi unsur penunjang yang vital. Strategi ini dilakuakan dengan menerapkan program pemerintahan yang titik berat utamanya ada pada intensitas pengembangan dakwah Islam dan didukung oleh perekomomian yang menitik beratkan pada perdagangan. [11]

D.    Interelasi Budaya Jawa dan Islam Dalam Aspek Politik
Politik jawa tampak mencolok pada gelar-gelar raja Islam seperti gelar sultan, kalifatullah sayyidin panatagama, tetunggul khalifatul mu’minin, susuhunan, dam sebagainya.
Gelar ratu tetunggal dipakai oleh Sunan Giri ketika menjadi raja pada masa transisi antara dari kerajaan Majapahit dan kerajaan Demak. Susunan Giri berkuasa dalam keadaan vakum kekuasaan pasca keruntuhan Majapahit. Pada masa vakum ini, tidak ada pimpinan yang berdaulat baik dari raja Hindu maupun Islam. Kerajaan Majapahit yang Hindu telah runtuh, sedangkan kerajaan Islam yang nantinya kerajaan Demak Belum berdiri. Sunan Giri berkuasa hanya dalam waktu 40 hari pasca keruntuhan Majapahit oleh seorang raja Girindrawardana dan Kelling Kendiri. Setelah masa peralihan 40 hari Sunan Giri menyerahkan kedaulatan kepada raja Islam yang permanen yaitu Raden Fatah. Dialah raja pertama kerajaan Islam Demak.[12]
Ada beberapa analisis mengenai Sunan Giri yang menjadi raja pada waktu itu, padahal dia bukan keturunan raja.
1)      Mengkiaskan diri dengan Nabi Yusuf AS yang juga bukan keturunan raja, tetapi naik tahta.
2)      Para wali khusunya sunan Giri tampaknya berkeyakinan bahwa tidak baik bahwa suatu komunitas (umat) tanpa pemimpin, entah pemimpin itu mukmin atau kafir.
3)      Sunan Giri hanya mengantarkan keadaan keadaan transisi menuju berdirinya kerajaan Islam Demak.[13]

Simbol politik Islam Jawa juga terdapat pada raja-raja Jogjakarta yang dipegang Sri Sultan Hamengkubuwono. Sri sultan Hamengkubuwono selain sebagai raja (kekuasaan politik) juga sebagai sayyidina panatagama(pemimpin agama). Inilah strategi politik jitu dari para pendahulu kita. Suatu proses Islamisssi yang amat arif dan kultural.
Hal senada juga terdapat pada Kiai Ageng Pandan Arang yang menjadi Bupati Semarang pertama yang merupakan bagian dari kesultanan Mataram.dia diangkat pada tahun 1574 M. Kiai Ageng Pandan Arang adalah seorang ulama yang memiliki pengaruh sangat besar ketika itu. Keistimewaan Kiai Ageng adalah kegemarannya mengembangkan fungsi masjid yang nantinya menjadi cikal bakal Masjid Agung kauman sekarang ini, bukan saja sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pemerintah.
Simbol percampuran politik Islam Jawa juga terdapat pada bangunan - bangunan kekuasaan. Pusat pemerintah dibuat dalam dalam satu rangkaian yang terdiri dari kantor pemerintahan (kerajaan/kraton, Kabupaten), masjid,pasar, dan alun-alun.[14]

 IV.            PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada akhir abad XVII hampir seluruh Pulau Jawa secara resmi beragama Islam. Kehadiran Islam di Jawa sejak awalnya mudah diterima karena pendakwahnya menyampaiakn Islam secara Harmonis.
Sistem Kemasyarakatan Masyarakat Jawa dalam kenyataan hidup masyarakat Jawa, orang masih membeda-bedakan  golongan sosial orang Jawa yang dibedakan menjadi:Wong cilik (orang kecil),Kaum priyayi,  dan Kaum ningrat. Sedangkan orang jawa atas dasar keagamaan terbagi atas dua kelompok, yaitu:Jawa kajawen dan Santri.
Menurut doktrin atau konsep kekuasaan Jawa raja berkuasa mutlak, tetapi memiliki tanggung jawab yang besar. Sistem Politik Masyarakat Jawa dibagi menjadi dua masa yaitu :
1.      Sistem Politik Masyarakat Jawa Pra Islam dengan model kepemipinanPergantian tahta tidak pernah dilakuakan selama raja yang mendahuluinya masih hidup. Program perekomomian yang menitik beratkan pada pertaniandanpenyewaantanah
2.      Sistem Politik Masyarakat Jawa Masa Islamdengan model kepemimpinansultan mempunyai kekuasaan tertinggi. Program pemerintahan menitik beratkan pada intensitas pengembangan dakwah Islam dan didukung oleh perekomomian yang menitik beratkan pada perdagangan.
Interelasi Budaya Jawa dan Islam Dalam Aspek Politik:
Politik jawa tampak mencolok pada gelar-gelar raja Islam seperti gelar sultan, kalifatullah sayyidin panatagama, tetunggul khalifatul mu’minin, susuhunan, dam sebagainya. Simbol politik Islam Jawa juga terdapat pada raja-raja jogjakarta yang dipegang Sri Hamengkubuwono.
Simbol percampuran politik Islam Jawa juga terdapat pada bangunan - bangunan kekuasaandengansatu rangkaian bangunanyang terdiri dari kantor pemerintahan (kerajaan/kraton, Kabupaten), masjid,pasar, dan alun-alun

B.     Saran
Demikianmakalah yang kami buat.Tentunyamasihbanyakkekurangandankelemahannnyadalampenulisanmakalahini, karenaterbatasnyapengetahuandankurangnyareferensi yang berhubungandenganjudulmakalah.
Olehkarenaitu, kritikdan saran yang membangunsangat kami harapkan demi sempurnanyamakalahinidanperbaikanuntukmakalahselanjutnya.
Terimakasihatasantusiasmedaripembaca, semogamakalahinibermanfaatbagikitasemua.


DAFTAR PUSTAKA

Amin,Darori. Islam dan Kebudayaan Jawa.Yogyakarta:Gama Media.2000.
Huda,Nor. Islam NusantaraSejarah sosial Intelektual islam di Indonesia.Jogyakarta:Ar-Ruzz Media.2007.
MH,Yana.Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa.Yogyakarta:Bintang Cemerlang.2012.
Solikhin, Muhammad.Ritual dan Tradisi Islam Jawa.Yogyakarta:Narasi.2010.
Shodiq.Potret Islam Jawa.Semarang:Pustaka Zaman.2002.



BIODATA PEMAKALAH

1.      Nama                             :    RiskaYaniWulan Sari
NIM                              :    133511086
Prodi                             :    PendidikanMatematika semester 5
TTL                               :    Pati, 9 Januari 1995
Riwayat Pendidikan     :    SD N 2 Bogotanjung 02
                                           SMP N 2 Pati
                                           SMA N 3 Pati
                                           UIN Walisongo Semarang
Alamat                          :    DesaBogotanjung, Kec. Gabus, Kab. Pati
NomorHp                      :    085641000925
Email                             :    riskawulan549@gmail.com



2.      Nama                             :    Musthalihah
NIM                              :    133511087
Prodi                             :    PendidikanMatematika semester 5
TTL                               :    Grobogan, 28 Februari 1995
Riwayat Pendidikan     :    MI Sunniyyah 1 Selo
                                           MTs PuteriSunniyyahSelo
                                           SMA N 1 Pulokulon
                                           UIN Walisongo Semarang
Alamat                          :    Desa. Kauman, Ds. Selo, Kec. TawangharjoKab.
                                           Grobogan
NomorHp                      :    085740698598
Email                             :    Musthalihah28@gmail.com


3.      Nama                             :    M. HafidNasyrullah
NIM                              :    133511090
Prodi                             :    PendidikanMatematika semester 5
TTL                               :    Sragen, 29 Agustus 1994
Riwayat Pendidikan     :    SD N 1 Gemolong
                                           SMP MTA Gemolong
                                           SMK MUHAMMADIYAH 1 Gondangrejo
                                           UIN Walisongo Semarang
Alamat                          :    PerumNgembatAsri, Ds. NgembatPedas, Kec.
                                           Gemolong, KabSragen
NomorHp                      :    085647404649
Email                             :    hafid_nasyrullah@yahoo.com




[1]Dariri Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa,Yogyakarta:Gama Media,2000,hlm.204-205.
[2] Nor Huda, Islam NusantaraSejarah sosial Intelektual islam di Indonesia,Jogyakarta:Ar-Ruzz Media,2007,hlm.53.
[3]Nor Huda, Islam NusantaraSejarah sosial Intelektual islam di Indonesia,Jogyakarta:Ar-Ruzz Media,2007,hlm.40
[4]Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa,Yogyakarta:Gama Media,2000,hlm.204-206.
[5] Muhammad Solikhin, Ritual dan Tradisi Islam Jawa,Yogyakarta:Narasi,2010,hlm.19.
[6]Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa,Yogyakarta:Gama Media,2000,hlm.204-212.
[7] Yana MH, Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa,Yogyakarta:Bintang cemerlang,2012,hlm15-16.
[8]Shodiq,Potret Islam Jawa,Semarang:Pustaka Zaman,2002,hlm.76-77.
[9]Shodiq,Potret Islam Jawa,Semarang:Pustaka Zaman,2002,hlm.78-79
[10]Shodiq,Potret Islam Jawa,Semarang:Pustaka Zaman,2002,hlm.79-81
[11]Shodiq,Potret Islam Jawa,Semarang:Pustaka Zaman,2002,hlm.83-84
[12] Shodiq,Potret Islam Jawa,Semarang:Pustaka Zaman,2002,hlm.73.
[13]Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa,Yogyakarta:Gama Media,2000,hlm.217-219.
[14]Shodiq,Potret Islam Jawa,Semarang:Pustaka Zaman,2002,hlm.73-74.